Desa Wisata Ketingan

Desa Wisata Ketingan (sumber: Dinas Pariwisata DIY)

Desa Wisata Ketingan (sumber: Dinas Pariwisata DIY)

Berawal kehadiran burung-burung kuntul yang meresahkan warga karena dianggap hama, siapa sangka kini desa ini menjadi salah satu desa wisata unggulan di daerah Sleman. Desa Wisata Ketingan inilah yang hingga saat ini terkenal dengan desa wisata Burung Kuntul (Bangau).

Pada awalnya warga Ketingan khawatir akan keberadaan kawanan burung yang bermigrasi ke desa mereka pada saat memasuki musim kawin tepatnya saat musim penghujan tiba. Warga khawatir burung-burung ini akan mengganggu tanaman padi dan melinjo yang menjadi sumner utama penghasilan mereka. Beberapa warga pun mencoba mengusir kawanan burung ini. Namun alih-alih pergi, justru mereka berkembang biak dan populasinya semakin banyak. Akhirnya warga pun membiarkan kawanan burung ini, bahkan kini desa ini menjadi dusun konservasi burung kuntul di Yogyakarta.

Birdwatching atau mengamati burung menjadi aktivitas favorit bagi para wisatawan, terutama bagi mereka yang menyukai dunia binatang. Selain itu, pada bulan September, wisatawan dapat menyaksikan acara adat Merti Bumi yang menampilkan berbagai pertunjukan seni seperti kirab, kenduri, dan pagelaran wayang. Merti Bumi sendiri dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil bumi yang melimpah.

Desa Wisata Ketingan menyediakan penginapan bagi para wisatawan yang ingin tinggal lebih lama disini sembari mengikuti kegiatan warga sehari-hari seperti bertani di sawah, mengikuti kegiatan seni tradisional, dan belajar langsung membuat makanan dan minuman tradisional khas Desa Ketingan.

Agar tidak kehilangan momen, cobalah datang pada pagi atau sore hari saat burung-burung kuntul ini sedang mencari makan di sawah dan pulang ke sarang. Jangan lupa juga memakai topi atau pelindung kepala agar tidak terkena kotoran burung.


Tugu Jogja, Simbol Kota Yogyakarta

Tugu Jogja (sumber: Dinas Pariwisata DIY)

Tugu Jogja (sumber: Dinas Pariwisata DIY)

Tugu yang dibangun pada tahun 1755 oleh Hamengkubuwono I, pendiri Kraton Yogyakarta, mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis yang menghubungkan laut selatan, Kraton Jogja, dan Gunung Merapi. Konon Sultan pada saat melakukan meditasi menjadikan tugu ini sebagai patokan arah menghadap Gunung Merapi.

Pada saat awal berdirinya, bangunan ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan. Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), hingga akhirnya dinamakan Tugu Golong-Gilig. Keberadaan Tugu ini juga sebagai patokan arah ketika Sri Sultan Hamengku Buwono I pada waktu itu melakukan meditasi, yang menghadap puncak gunung Merapi.

Bangunan Tugu Jogja saat awal dibangun berbentuk tiang silinder yang mengerucut ke atas, sementara bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar, sedangkan bagian puncaknya berbentuk bulat. Ketinggian bangunan tugu golong gilig ini pada awalnya mencapai 25 meter.

Namun pada tanggal 10 Juni 1867, kondisi Tugu Jogja berubaha karena adanya bencana gempa bumi pada saat itu yang membuat Tugu Jogja runtuh. Hingga pada tahun 1889 keadaan Tugu Jogja benar-benar berubah. saat pemerintah Belanda merenovasi seluruh bangunan tugu. Kala itu Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Ketinggiannya pun menjadi lebih rendah, menjadi hanya 15 meter. Sejak saat itulah Tugu Jogja dinamai Tugu Pal Putih sebagai taktik Belanda untuk memecah persatuan antar rakyat dan raja, namun upaya itu tidak berhasil.


Kebun Teh Nglinggo

Kebun Teh Nglinggo (sumber: Dinas Pariwisata DIY)

Kebun Teh Nglinggo (sumber: Dinas Pariwisata DIY)

Mengunjungi perkebunan teh tidak harus jauh-jauh ke Lembang Bandung Jawa Barat. Untuk mendapatkan suasana udara segar serta dingin cukup mengunjungi Kebun Teh Nglinggo yang berlokasi di Desa Ngargosari dan Desa Pagerharjo Kecamatan Samigaluh Kulon Progo, Yogyakarta. Walaupun tidak seluas perkebunan yang berada di tempat lainnya, keindahan kebuh teh di kedua desa tersebut tidak perlu diragukan lagi.

Mengutip pepatah bijak, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, perjalanan menuju Kebun Teh Nglinggo harus melewati banyak jalan yang berliku dan sempit serta jalan yang menanjak sebagai ciri khas perbukitan untuk dapat pergi ke kebun teh ini. Kesulitan itu tidak berarti karena jalanan sudah diaspal sehingga akses menuju kebuh tersebut tidaklah susah.

Sesampainya di Kebun Teh Nglinggo, pemandangan indah hamparan kebun teh tersaji di depan mata.

Disinilah pentingnya membawa alat dokumentasi untuk mengabadikan keindahan di tempat ini. Suasana yang ada akan terasa damai dan sunyi. Berada di antara pohon teh menambah rasa sejuk dan nyaman.

Selain keindahan pemandangan di Kebun Teh Nglinggo, wisatawan dapat merasakan keramahtamahan para penduduk yang terlibat di perkebunan ini. Mereka adalah petani yang ada di perkebunan teh ini, tak segan-segan mereka mengajari kita bagaimana cara memetik teh dengan baik dan benar, bahkan tanpa segan-segan mereka mengajak pengunjung untuk melihat pengolahan teh serta menawarkannya teh kepada pengunjung untuk menyeruputnya.


Puncak Suroloyo

Puncak Suroloyo (sumber: Dinas Pariwisata DIY)

Puncak Suroloyo (sumber: Dinas Pariwisata DIY)

Bagi para pecinta wisata alam, Kulon Progo bisa menjadi pilihan tepat untuk berlibur. Wilayah Kulon Progo bagian utara berada di kawasan Perbukitan Menoreh yang menyimpan banyak potensi wisata alam. Perbukitan Menoreh sendiri merupakan kawasan perbukitan yang membentang di wilayah Kabupaten Kulon Progo, Magelang, dan Purworejo.

Perbukitan Menoreh memiliki titik tertinggi yang bernama Puncak Suroloyo. Puncak Suroloyo memiliki ketinggian kurang lebih 1.091 Mdpl. Dari puncak ini wisatawan bisa melihat pemandangan empat gunung sekaligus, yaitu Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Sumbing. Karena itu tidak heran jika Puncak Suroloyo menjadi destinasi favorit para wisatawan.

Puncak Suroloyo memiliki tiga gardu pandang untuk menikmati bentang alam Perbukitan Menoreh. Wisatawan harus menaiki ratusan anak tangga sebelum akhirnya bisa sampai di puncak.

Akan tetapi lelah selama perjalanan akan langsung terbayarkan dengan pemandangan yang membuat hati berdecak kagum.

Waktu yang disarankan untuk mengunjungi Puncak Suroloyo yaitu pada musim kemarau saat untuk menyaksikan indahnya pemandangan matahari terbit dan terbenam tanpa terhalang kabut maupun awan. Bahkan jika cuaca sangat cerah, akan terlihat pesona Borobudur yang terlihat kecil diantara lembah-lembah dan empat gunung.

Selain view yang memikat, musim durian juga menjadi alasan wisatawan berbondong-bondong datang ke Suroloyo. Durian Menoreh memiliki aroma yang memikat dan daging yang tebal dan legit. Bahkan setiap tahun Suroloyo rutin mengadakan Festival Durian yang khusus diselenggarakan untuk pecinta buah berduri ini. selain bisa mencicipi durian varietas unggulan, wisatawan juga bisa langsung membeli bibit durian yang sudah mendapat sertifikasi dari Dinas Pertanian.

Rute menuju Puncak Suroloyo cukup mudah, akan tetapi jalan yang terjal dan berliku membuat pengendaran harus berhati-hati dan disarankan agar kendaraan dalam kondisi fit untuk melewati tanjakan curam.

Rute bisa dimulai dari Jalan Godean menuju Kulon Progo. Sampai di perempatan nanggulan ambil kanan menuju arah kalibawang kira-kira sekitar 15 kilometer. Nanti di kiri jalan sudah ada? papan pentujuk untuk menuju ke arah puncak suroloyo.

Memasuki kawasan obyek wisata Puncak Suroloyo, wisatawan harus membayar tiket sebesar Rp.2.000,- per orang. Sedangkan bila anda menggunakan jasa ojek rute dari pertigaan Bendo ke puncak Soroloyo pulang pergi, tarifnya Rp. 50.000,-


 

Lava Bantal

Lava Bantal (sumber: Dinas Pariwisata DIY)

Lava Bantal (sumber: Dinas Pariwisata DIY)

Lava Bantal yang berada di Berbah, Sleman merupakan salah satu kawasan geoheritage yang ada di Yogyakarta. Pemilihan nama Lava Bantal tidak lain karena bentuk bebatuan mirip bantal yang terjadi akibat lelehan lava erupsi gunung berapi yang bersentuhan langsung dengan air laut sehingga menyebabkan bentukan mineralnya tidak terpilah dengan baik, melainkan berbentuk geometri mirip bantal.

Disini pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan sungai dengan bebatuan besar di kedua sisinya. Air yang jernih mengalir diantara bebatuan terlihat menggoda untuk sekedar mencelupkan kaki merasakan kesegarannya. Sekilas, lava bantal mengingatkan pada sungai yang ada di pegunungan yang khas dengan bebatuan besar dan airnya yang masih jernih.

Selain pemandangan sungai yang cantik, di sekitar lokasi juga terdapat padang rumput luas yang biasa digunakan penduduk sekitar untuk menggembalakan ternak. Meskipun hanya lokasi ini hanya berupa sungai dan padang rumput saja, tentu saja bagi orang yang sudah penat dengan kehidupan perkotaan setiap hari, pemandangan seperti ini bagaikan oase dan cukup untuk mengistirahatkan pikiran sejenak.

Meskipun masih seadanya, fasilitas di kawasan Lava Bantal sudah cukup memadai seperti adanya area parkir, toilet, cafeteria, mushola, dan gazebo untuk para pengunjung beristirahat. Dan kini pengunjung juga bisa menjajal susur sungai seperti yang ada di kali suci. Para pengunjung akan dilengkapi dengan baju pelampung, pelindung kepala dan kelengkapan lainnya untuk menyusuri aliran sungai lava bantal menggunakan ban pelampung. Harga trek panjang (2km) adalah 55.000 rupiah, sedangkan trek pendek (200m) sebesar 30.000 rupiah.

Lava Bantal ada di Jalan Berbah – Prambanan, Desa Kalitirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta. Rute dari dari Candi Abang, ke barat lalu ke utara ikuti jalan aspal. Nantinya akan melewati lapangan dan sebuah jembatan, nah di bawah jembatan itulah lokasi wisata ini berada. Tidak ada biaya masuk, pengunjung hanya ditarik biaya parkir saja.


Jogja Bay Waterpark 

Jogja Bay Waterpark (sumber: Dinas Pariwisata DIY)

Jogja Bay Waterpark (sumber: Dinas Pariwisata DIY)

Jogja Bay Waterpark merupakan salah satu wahana air yang ada di Yogyakarta. Waterpark yang diresmikan 20 Desember 2015 ini Jogja Bay mengusung Bajak Laut sebagai tema utamanya. Berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 7,7 hektar, Jogja Bay memiliki 14 wahana air seru yang siap membuat hari libur semakin seru. Karena itu, tidak heran jika Jogja Bay di klaim sebagai waterpark terbesar, tercanggih dan terlengkap di Indonesia.

Jogja Bay ini memiliki 14 wahana aktraktif yang bisa dinikmati wisatawan. Di antaranya adalah Memo Racer, South Beach, Bekti Adventure, Volcano Coastor, Timo Rider, Mimi Family, Jolie Raft River, Brando Boomeranggo, Donte Wild River, Ziggy Giant Barrel, Hip Playground, Kula Playpool, Grand Lobby, dan Harbour Theater.

Bagi pengunjung yang menyukai tantangan dan wahana yang bisa memacu adrenalin, bisa mencoba beberapa wahana seru antara lain Memo Racer, Volcano Coaster, Timo Rider, Jolie Raft River dan Brando Boomeranggo.

Sedangkan wahana yang cocok untuk anak-anak, Jogja Bay Waterpark menyediakan Ziggy Giant Barrel, Mimi Family dan Hip Playground. Tersedia juga Donte Wild River yang merupakan kolam arus dan Kula Playpool dapat dinikmati segala usia.

Selain itu, Jogja Bay Waterpark memiliki wahana air edukasi, yaitu South Beach. Wahana berupa kolam ombak yang mempunyai 9 jenis ombak berbeda ini memberikan informasi dan edukasi kepada pengunjung tentang ‘How to survive in Tsunami and earthquake’.

Tidak hanya berbagai wahana permainan air saja yang ada disini, Setiap Sabtu dan Minggu pukul 15.00 – 16.00 WIB Jogja Bay Waterpark menampilkan pertunjukan spektakuler berupa drama musical Jose and The Guardians Past In the Future menceritakan tentang Story of Jogja Bay.

Fasilitas yang tersedia di wisata ini sudah sangat lengkap, mulai dari Area Parkir, Panggung, Gazebo, Pool Bar, Penyewaan Loker, Penyewaan Handuk, Layanan Foto, Pirates Ship, Shopping Centre, Resto & Cafe, Light House, Musholla, Kamar Mandi, dan Odong-Odong.

Jogja Bay Waterpark

Alamat : Jl. Utara Stadion, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Harga tiket masuk untuk weekdays :

Dewasa : Rp 90.000

Anak – Anak ( Tingi dibawah 110cm ) : Rp 60.000

Usia diatas 65 Tahun : Rp 60.000

Usia bawah 2 tahun : Gratis

Harga tiket masuk untuk weekend :

Dewasa : Rp 100.000

Anak – Anak ( Tinggi dibawah 110cm ) : Rp 75.000

Usia diatas 65 Tahun : Rp 75.000

Usia bawah 2 tahun : Gratis

Jam Buka Jogja Bay Waterpark untuk pembelian tiket :

Senin – Jumat : 09.00 – 16.00

Jam buka wahana : 09.00 – 18.00

Sabtu – Minggu : 08.00 – 16.00

Jam buka wahana : 08.00 – 18.00 (Jika ada events khusus Harbour Theatre sampai jam 22.00)


Bukit Klangon Merapi

Bukit Klangon Merapi (sumber: Dinas Pariwisata DIY)

Bukit Klangon Merapi (sumber: Dinas Pariwisata DIY)

Wisata di sekitar lereng Merapi memang memiliki daya tarik tersendiri. Pemandangan gagahnya Merapi dan sejuknya udara khas pegunung menjadi alasan utama banyak wisatawan yang mengunjungi wisata-wisata yang ada di lereng Merapi, Sleman. Hal ini tentu saja mendorong para pengusaha di sektor pariwisata untuk semakin mengembangkan pariwisata di kabupaten Sleman, khususnya di daerah sekitar lereng Merapi, Bukit Klangon contohnya.

Bukit Klangon Merapi mengusung wisata gardu pandang sebagai konsep utamanya. Akan tetapi, berbeda dengan wisata-wisata yang memiliki konsep sama, pemandangan gardu pandang di Bukit Klangon mengambil kegagahan Gunung Merapi sebagai latar belakangnya. Terlihat dari gardu pandang pemandangan Gunung merapi yang terlihat besar, gagah, dan mengagumkan.

Selain terkenal dengan gardu pandangany, Bukit Klangon juga dikenal sebagai salah satu lokasi Downhill terbaik di Yogyakarta. Di tempat ini, dikembangkan lintasan sirkuti downhill bagi para pembalap sepeda gunung (MTB). Bahkan di beberapa kali kesempatan, Bukit Klangon turut menyelenggarakan event kejuaran sepeda baik tingkat regional maupun nasional.

Menuju Bukit Klangon Merapi, wisatawan bisa memulai dari Jalan Kaliurang lurus ke utara sampai bertemu pertigaan untuk menuju merapi Golf atau The Lost World Castle kemudian ambil kanan lurus ke timur. Sampai ada pertigaan, ambil kiri dan ikuti petunjuk arah menuju Bukit Klangon. Bukit Klangon ini letaknya hanya sekitar 2 km dari The Lost World Castle.


Kebun Buah Mangunan

Kebun buah mangunan (sumber: Dinas Pariwisata DIY)

Kebun buah mangunan (sumber: Dinas Pariwisata DIY)

Keindahan alam adalah anugerah besar dari Tuhan yang diberikan kepada para hambaNya untuk mensyukuri nikmat besar ini. Dengan kesadaran yang tinggi mereka pun rela berbondong-bondong untuk melihat langsung dari dekat keajaiban Tuhan melalui alam semestanya. Hal ini bisa kita lihat banyaknya warga masyarakat yang datang pagi-pagi di puncak bukit Kebun Buah Mangunan untuk melihat lautan kabut yang membentuk kelokan bukit di kanan kiri sungai Oya ini. Kabut atau halimun ini saling bertemu sehingga kelokan sungai Oya tidak nampat dari bukit ini, mereka bersepakat untuk memberikan keindahan bagi para pengunjung di tempat ini.

Lokasi Kebun Buah Mangunan

Kebun buah mangunan berlokasi di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk menuju lokasi ini dari Kota Yogyakarta, anda bisa melalui terminal giwangan ke selatan yaitu melewati Jalan Imogiri timur. Sampai di daerah imogiri, silahkan menuju jalan menanjak mengikuti papan petunjuk. Dari kecamatan Imogiri masih menempuh sekitar 4 Km lagi.

Edilia salah satu pengunjung yang sempat kami wawancarai disela-sela keriangannya melihat halimun dari bukit Kebun Buah Mangunan ini pun menyatakan kekagumannya terhadap fenomena alam ini.

Bagus banget, saya dan teman-teman tuntas sudah rasa penasaran terhadap hal ini. Beberapa kali melihat foto dari media sosial akhirnya kita bisa melihat langsung, pokoknya keren banget mas, ungkap mahasiswi Fak Ilmu Budaya UGM.

Hal yang sama pun juga diungkapkan oleh Jerry yang sengaja menginap bersama kawan-kawannya untuk mengejar matahari terbit dan lautan kabut di puncak bukit Kebun Buah Mangunan.

Bagus banget, akhirnya kami bisa melihat langsung dari sini. Saya dan teman-teman sudah mengagendakan waktu untuk menginap agar bisa merasakan langsung sunrise dan lautan kabut di sini, ungkap Jerry mahasiswa Amikom Jurusan Informatika.

Lautan kabut di puncak bukit Kebun Buah Mangunan juga menggerakkan roda perekonomian bagi masyarakat setempat untuk menjemput rejeki. Beberapa pedagang pun sudah siap membuka lapak mereka mulai dari bubur khas Mangunan, Kedai Kopi, warung kelontong dan bakso tusuk bakar.

Inilah kebesaran Tuhan dengan fenomena alamnya memberikan manfaat besar bagi hamba-Nya. Rejeki dan kebahagiaan menjadi satu di pagi itu.


Keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta

JOGJA WELCOMES YOU – Bangunan Kraton dengan arsitektur Jawa yang agung dan elegan ini terletak di pusat Kota Yogyakarta. Bangunan ini didirikan oleh Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I, pada tahun 1775.Beliau yang memilih tempat tersebut sebagai tempat untuk membangun bangunan tersebut, tepat di antara sungai Winongo dan sungai Code, sebuah daerah berawa yang dikeringkan.

Bangunan Kraton membentang dari utara ke selatan. Halaman depan dari Kraton disebut alun-alun utara dan halaman belakang disebut alun-alun selatan. Desain bangunan ini menunjukkan bahwa Kraton, Tugu dan Gunung Merapi berada dalam satu garis/poros yang dipercaya sebagai hal yang keramat.Pada waktu lampau Sri Sultan biasa bermeditasi di suatu tempat pada poros tersebut sebelum memimpin suatu pertemuan atau memberi perintah pada bawahannya.

Bangunan Kraton membentang dari utara ke selatan. Halaman depan dari Kraton disebut alun-alun utara dan halaman belakang disebut alun-alun selatan. Desain bangunan ini menunjukkan bahwa Kraton, Tugu dan Gunung Merapi berada dalam satu garis/poros yang dipercaya sebagai hal yang keramat.Pada waktu lampau Sri Sultan biasa bermeditasi di suatu tempat pada poros tersebut sebelum memimpin suatu pertemuan atau memberi perintah pada bawahannya.

Yang disebut Kraton adalah tempat bersemayam ratu-ratu, berasal dari kata : ka + ratu + an = kraton. Juga disebut kadaton, yaitu ke + datu + an = kedaton, tempat datu-datu atau ratu-ratu. Bahasa Indonesianya adalah istana, jadi kraton adalah sebuah istana, tetapi istana bukanlah kraton.Kraton ialah sebuah istana yang mengandung arti keagamaan, arti filsafat dan arti kulturil (kebudayaan).

Dan sesungguhnya Kraton Yogyakarta penuh dengan arti-arti tersebut diatas.Arsitektur bangunan-bangunannya, letak bangsal-bangsalnya, ukiran-ukirannya, hiasannya, sampai pada warna gedung-gedungnyapun mempunyai arti.Pohon-pohon yang ditanam di dalamnya bukan sembarangan pohon.Semua yang terdapat disini seakan-akan memberi nasehat kepada kita untuk cinta dan menyerahkan diri kita kepada Tuhan yang Maha Esa, berlaku sederhana dan tekun, berhati-hati dalam tingkah laku kita sehari-hari dan lain-lain.

Siapakah gerangan arsitek dari kraton ini?Beliau adalah Sri Sultan Hamengkubuwono I sendiri. Waktu masih muda, baginda bergelar pangeran Mangkubumi Sukowati dan dapat julukan, menurut Dr.F.Pigeund dan Dr.L.Adam dimajalah Jawa tahun 1940:”de bouwmeester van zijn broer Sunan P.B II” (“arsitek dari kakanda Sri Sunan Paku Buwono II”).

Komplek kraton terletak di tengah-tengah, tetapi daerah kraton membentang antara Sungai Code dan Sungai Winanga, dari utara ke selatan adalah dari Tugu sampai Krapyak. Namun kampung-kampung jelas memberi bukti kepada kita bahwa ada hubungannya antara penduduk kampung itu dengan tugasnya di kraton pada waktu dahulu, misalnya Gandekan = tempat tinggal gandek-gandek (kurir) dari Sri Sultan, Wirobrajan tempat tinggal prajurit kraton wirobrojo, Pasindenan tempat tinggal pasinden-pasinden (penyanyi-penyanyi) kraton.

Luas Kraton Yogyakarta adalah 14.000 meter persegi.Didalamnya terdapat banyak bangunan-bangunan, halaman-halaman dan lapangan-lapangan.

Kita mulai dari halaman kraton ke utara:

1. Kedaton/Prabayeksa

2. Bangsal Kencana

3. Regol Danapratapa (pintu gerbang)

4. Sri Manganti

5. Regol Srimanganti (pintu gerbang)

6. Bangsal Ponconiti (dengan halaman Kemandungan)

7. Regol Brajanala (pintu gerbang)

8. Siti Inggil

9. Tarub Agung

10. Pagelaran (tiangnya berjumlah 64)

11. Alun-alun Utara dihias dengan

12. Pasar (Beringharjo)

13. Kepatihan

14. Tugu

Angka 64 itu menggambarkan usia Nabi Muhammad 64 tahun Jawa, atau usia 62 tahun Masehi.

Kalau dari halaman kraton pergi ke selatan maka akan kita lihat:

15. Regol Kemagangan (pintu gerbang)

16. Bangsal Kemagangan

17. Regol Gadungmlati (pintu gerbang)

18. Bangsal Kemandungan

19. Regol Kemandungan (pintu gerbang)

20. Siti Inggil

21. Alun-alun Selatan

22. Krapyak

Catatan:

1. Regol =pintu gerbang

2. Bangsal =bangunan terbuka

3. Gedong =bangunan tertutup (berdinding)

4. Plengkung =pintu gerbang beteng

5. Selogilang =lantai tinggi dalam sebuah bangsal semacam podium rendah, tempat duduk Sri Sultan atau tempat singgasana Sri Sultan

6. Tratag =bangunan, biasanya tempat berteduh, beratap anyam-anyaman bamboo dengan tiang-tiang tinggi, tanpa dinding.

Komplek kraton itu dikelilingi oleh sebuah tembok lebar, beteng namanya. Panjangnya 1 km berbentuk empat persegi, tingginya 3,5 m, lebarnya 3 sampai 4 m. di beberapa tempat di beteng itu ada gang atau jalan untuk menyimpan senjata dan amunisi, di ke-empat sudutnya terdapat bastion-bastion dengan lobang-lobang kecil di dindingnya untuk mengintai musuh. Tiga dari bastion-bastion itu sekarang masih dapat dilihat.Beteng itu di sebelah luar di kelilingi oleh parit lebar dan dalam.

Lima buah plengkung atau pintu gerbang dalam beteng menghubungkan komplek kraton dengan dunia luar. Plengkung-plengkung itu adalah:

1. Plengkung Tarunasura atau plengkung Wijilan di sebelah timur laut.

2. Plengkung Jogosuro atau Plengkung Ngasem di sebelah Barat daya.

3. Plengkung Jogoboyo atau Plengkung Tamansari di sebelah barat.

4. Plengkung Nirboyo atau Plengkung Gading di sebelah selatan.

5. Plengkung Tambakboyo atau Plengkung Gondomanan di sebelah timur.

SEJARAH 

Pada tahun 1955, perjanjian Giyanti membagi dua kerajaan Mataram menjadi Ksunanan Surakarta dibawah pemerintah Sunan Pakubuwono III dan Kasultanan Ngayogyakarta dibawah pemerintah Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono I. Pesanggrahan Ayodya selanjutnya dibangun menjadi Kraton Kasultanan Yogyakarta .

Lebih dari 200 tahun yang lalu, tempat dimana Kraton Yogyakarta sekarang berada merupakan daerah rawa yang dikenal dengan nama Umbul Pachetokan, yang kemudian dibangun menjadi pesanggrahan yang bernama Ayodya. Kraton Yogyakarta menghadap ke arah utara, pada arah poros Utara selatan, antara gunung merapi dan laut selatan.Di dalam balairung kraton, dapat disaksikan adegan pisowanan (persidangan agung) dimana Sri Sultan duduk di singgasana dihadap para pemangku jabatan istana.

Regol Donopratomo yang menghubungkan halaman Sri Manganti dengan halaman inti kraton, dijaga oleh 2 (dua) patung dwarapala yang diberi nama Cingkarabala dan Balaupata, yang melambangkan kepribadian baik manusia, yang selalu menggunakan suara hatinya agar selalu berbuat baik dan melarang perbuatan yang jahat. Di dalam halaman inti kraton, dapat dilihat tempat tinggal Sri Sultan yang biasa digunakan untuk menerima tamu kehormatan dan menyelenggarakan pesta.Di tempat ini juga terdapat keputren atau tempat tinggal putri-putri Sultan yang belum menikah.

Kraton Yogyakarta dibangun pada tahun 1256 atau tahun Jawa 1682, diperingati dengan sebuah condrosengkolo memet di pintu gerbang Kemagangan dan di pintu Gading Mlati, berupa dua ekor naga berlilitan satu sama lainnya. Dalam bahasa jawa : “Dwi naga rasa tunggal” Artinya: Dwi=2, naga=8, rasa=6, tunggal=I, Dibaca dari arah belakang 1682. warna naga hijau, Hijau ialah symbol dari pengharapan.

Disebelah luar dari pintu gerbang itu, di atas tebing tembok kanan-kiri ada hiasan juga terdiri dari dua (2) ekor naga bersiap-siap untuk mempertahankan diri. Dalam bahasa Jawa: “Dwi naga rasa wani”, artinya: Dwi=2, naga=8, rasa=6, wani=1 jadi 1682.

Tahunnya sama, tetapi dekorasinya tak sama. Ini tergantung dari arsitektur, tujuan dan sudut yang dihiasinya.Warna naga merah.Merah ialah simbol keberanian.Di halaman Kemegangan ini dahulu diadakan ujian-ujian beladiri memakai tombak antar calon prajurit-prajurit kraton.Mestinya mereka pada waktu itu sedang marah dan berani.

Jam Buka

– Setiap hari mulai pukul 09.00 -14.00 WIB
– Kecuali hari Jum’at Kraton hanya buka sampai dengan pukul; 11.00 WIB

Fasilitas

– Pemandu Wisata (dikenakan biaya tambahan)
– Toilet
– Toko cinderamata

Kegiatan

– Pertunjukan Gamelan pada hari senin dan selasa pukul 10.00-12.00 WIB
– Pertunjukan Wayang Kulit pada hari sabtu pukul 09.00-13.00 WIB
– Pertunjukan Tarian pada hari minggu dan kamis pukul 19.00-12.00 WIB
– Pembacaan Puisi pada hari jum’at pukul 10.00-11.30 WIB
– Pertunjukan Wayang Golek pada hari rabu pukul 09.00-12.00 WIB


Masjid Gedhe Kauman

Masjid Gedhe Kauman

JOGJA WELCOMES YOU – Sejarah keberadaan Masjid Gedhe Kauman tidak bisa dilepaskan dari Kraton Kasultanan Yogyakarta sebagai kerajaan Islam dalam perundingan Giyanti pada tahun 1755. Masjid Gedhe Kauman berdiri 18 tahun kemudian setelah perjanjian Giyanti.Keistimewaan Masjid Gedhe Kauman adalah satu-satunya masjid raya di Indonesia yang berumur lebih 200 tahun menyimpan begitu banyak potensi sejarah di dalamnya.Gaya arsitekturalnya yang kental dengan nuansa Kraton menjadi daya tarik tersendiri untuk dijadikan objek wisata sejarah bagi wisatawan lokal maupun asing.Posisi Masjid Gedhe Kauman tidak jauh dari Kraton Yogyakarta, sebelah barat tepat disamping Alun-alun Utara.Secara administrasi masjid ini beralamat di Kampung Kauman, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta.

Bila kita melihat bagian atap masjid ini menggunakan sistem atap tumpang tiga dengan mustaka yang mengilustrasikan daun kluwih dan gadha.Sistem atap tumpang tiga ini memiliki makna kesempurnaan hidup melalui tiga tahapan kehidupan manusia yaitu, Syariat, Makrifat dan Hakekat.Perubahan jaman dengan segala peristiwanya telah membuat bangunan masjid ini berkembang dan berbeda dengan masa lalunya.Pada tahun 1867 terjadi gempa besar yang meruntuhkan bangunan asli serambi Masjid Gedhe Kauman diganti dengan menggunakan material yang khusus diperuntukkan bagi bangunan kraton.Tidak ketinggalan pula lantai dasar masjid yang terbuat dari batu kali kini telah diganti dengan marmer dari Italia. Pesona dari Masjid Gedhe Kauman terletak pada beberapa keunikan salah satunya pemasangan batu kali putih pada dinding masjid tidak menggunakan semen dan unsure perekat lain, serta penggunaan kayu jati utuh yang telah berusia 200 tahun lebih sebagai penumpang bangunan masjid tersebut.

Seperti pada umumnya sebuah masjid raya, Masjid Gedhe Kauman terdiri dari masjid induk dengan satu ruang utama sebagai tempat untuk sholat yang dilengkapi tempat imam memimpin sholat atau mihrab.Samping kiri belakang mihrab terdapat maksura yang terbuat dari kayu jati bujur sangkar dengan lantai marmer yang lebih tinggi serta dilengkapi dengan tombak.Maksura difungsikan sebagai tempat pengamanan raja apabila Sri Sultan berkenan sholat berjamaah di Masjid Gedhe Kauman.Tidak jauh dari mihrab terdapat Mimbar yang berbentuk singgasana berundak sebagai tempat bagi khotib dalam menyampaikan khotbah Jumat. Mimbar dibuat dari kayu jati berhiaskan ukiran indah berbentuk ornament stilir tumbuh-tumbuhan dan bunga di prada emas.

Selain ruang inti masjid induk juga dilengkapi dengan berbagai ruangan yang memiliki fungsi berbeda, seperti pawestren (tempat khusus bagi jamaah putri), yakihun (ruang khusus peristirahatan para ulama, khotib, dan merbot), blumbang (kolam), dan tentu saja serambi masjid. Bagian lain dari kompleks Masjid Gedhe pada masa sekarang adalah KUA, kantor Takmir, Pagongan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan gamelan Sekaten, Pajagan yang dulunya digunakan sebagai tempat prajurit kraton berjaga dan terletak memanjang di kanan kiri gapura, serta regol atau gapura yang berbentuk Semar Tinandu dan merupakan pintu gerbang utama kompleks masjid.

Tak jauh berbeda dengan masjid atau mushalla pada umumnya, menyambut bulan Ramadhan Masjid Gedhe juga menyiapkan rangkaian acara dan takjilan buka bersama yang tiap harinya dikunjungi hingga 600 orang jamaah. Menurut Julianto Supardi, ketua panitia Ramadhan Masjid Gedhe, bahkan terdapat hari khusus dengan menu spesial. Setiap hari Kamis kami (panitia-red) khusus menyembelih kambing dan menyediakan Gulai Kambing sebagai menu buka puasa.Jika anda bukan penderita tekanan darah tinggi akut, penulis rasa, menu special tersebut patut untuk dicoba dan jangan lupa untuk membawa kamera jika Anda tidak ingin melewatkan wisata religi dari nilai sejarah serta kemegahan yang unik dari arsitektur masjid tertua di Jogja tersebut.


Taman Makam Pahlawan

JOGJA WELCOMES YOU – Sebanyak 5 pahlawan nasional dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara yang berlokasi di Jalan Kusumanegara, Yogyakarta.

Pahlawan yang dimakamkan disana antara lain Jenderal Besar Republik Indonesia era Revolusi, Jenderal Soedirman. Oerip Soemohardjo, sosok pelopor terbentuknya Tentara Keamanan Rakyat, Brigjen Anumerta Katamso Darmokusumo, Pahlawan Revolusi, 1965.

Menteri Pembangunan Pemuda era Pemerintahan Soekarno, Menteri Soepeno. Serta Irjen (Pol) F.X. Sumardi – Kapolda Irian Jaya, salah satu korban tewas dalam kecelakaan pesawat Cassa U-614 tahun 2001 di Irian Jaya.

Pemakaman ini dikhususkan bagi mereka yang telah berjasa kepada NKRI termasuk pahlawan nasional, anggota militer, dan pejabat tinggi negara.


 

Klenteng Bhudda Prabha

Klenteng Bhudda Prabha

JOGJA WELCOMES YOU – Salah satu peninggalan etnis Tionghoa di Jogja adalah Klenteng Bhudda Prabha atau yang lebih dikenal dengan Klenteng Gondomanan. Berlokasi di daerah Gondomanan tepatnya Jalan Brigjen Katamso Nomor 3, Kota Yogyakarta, merupakan bangunan yang memilki nilai sejarah dan spiritual yang  penting bagi perkembangan budaya Tionghoa di Yogyakarta. Bagi kalian etnis Tionghoa atau yang beragama Buddha, kamu bisa menjalani doa dan mengikuti sejumlah kegiatan keagamaan. Atau cuma sekadar menikmati keindahan arsitekturnya.